Categories
Info Kesehatan

Diare pada anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus ke Dokter

👶 Data Diare di Kalimantan Selatan / Banjarmasin

👉 Data-data ini menunjukkan bahwa di Kalsel, dan khususnya Banjarmasin, diare — terutama pada anak/balita — tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang nyata.

🔍 Apa Itu Diare?

Diare adalah kondisi saat seseorang mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya, dengan tinja yang lebih cair atau lembek dari normal. Diare bisa terjadi pada semua usia, dan sering terjadi akibat infeksi saluran pencernaan, makanan atau air yang terkontaminasi, atau intoleransi makanan.

Saat diare, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit — sehingga jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi sangat berbahaya bagi anak-anak dan orang rentan.

⚠️ Penyebab & Gejala Umum Diare

Sebelum mengetahui apa saja langkah awal mengatasi diare pada anak, ibu perlu mengenali penyebab dan gejalanya terlebih dulu. Selain terjadi perubahan tekstur dan frekuensi buang air besar, gejala biasanya disertai dengan beberapa hal seperti Demam, Mual, Muntah, Penurunan nafsu makan, & Dehidrasi ringan

Penyebabnya sendiri akan tergantung pada durasi diare tersebut berlangsung, apakah kurang dari dua minggu (diare akut) atau lebih (diare kronis). Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab diare akut pada anak seperti Alergi makanan, Keracunan makanan, Infeksi saluran pencernaan akibat virus, & Penggunaan antibiotik

Sedangkan diare kronis biasanya disebabkan oleh beberapa kondisi seperti Intoleransi makanan, Infeksi parasit, & Iritasi usus

Selain menerapkan pola hidup bersih untuk mencegah diare, ibu juga dapat menunjang kebutuhan nutrisi dan gizinya dengan memberikan suplemen atau multivitamin yang dibutuhkan.

👶 Penanganan Awal — Cara Aman Menggunakan Oralit

Jika anak atau anggota keluarga mengalami diare, penggunaan oralit dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Berikut cara dan dosis yang disarankan:

Cara memberi oralit: larutkan 1 sachet ke dalam 200 ml air matang, aduk rata, dan berikan perlahan — jangan sekaligus banyak agar tidak membuat muntah.

1. Berikan Larutan Oralit

Jika ibu memiliki anak yang masih menyusui dan terkena diare, disarankan untuk memberikan ASI lebih sering untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Jika anak sudah tidak menyusu, berikan banyak pengganti cairan yang mengandung elektrolit dan garam, seperti sup ayam atau jus.

2. Berikan Larutan Oralit

Larutan oralit terbuat dari sejumput garam dan gula yang dicampur dengan air hangat. Jika tidak sempat untuk membuatnya sendiri, ibu dapat memberikan larutan oralit siap pakai di apotek. Larutan oralit tersedia dalam dua jenis, yaitu cair di dalam botol siap minum atau bubuk.

3. Kenali Gejala yang Membahayakan

Dehidrasi menjadi komplikasi paling fatal akibat diare. Jika tidak ditangani dengan langkah yang tepat, kondisi tersebut dapat menimbulkan dehidrasi berat yang sangat membahayakan nyawa. Jika terjadi, anak bisa saja mengalami kejang-kejang, kerusakan otak, bahkan kematian. Berikut ini gejala membahayakan yang memerlukan penanganan medis segera:

🏥 Kapan Harus ke Dokter?

Anak anda perlu segera ke dokter jika:

Khusus untuk bayi di bawah 6 bulan, karena mereka sangat rentan terhadap dehidrasi, segera konsultasikan ke dokter jika mulai diare.

Jika Anda mengalami diare berkepanjangan, tidak membaik, atau disertai keluhan berat, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi seperti dehidrasi parah.

✨ Kesimpulan

Diare memang umum terjadi — namun jangan dianggap sepele. Dengan penanganan cepat, seperti pemberian Oralit sesuai takaran di atas, banyak kasus bisa pulih tanpa komplikasi.

Jika gejala berat atau berlangsung lama, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter — penanganan profesional sangat penting untuk kesehatan terutama anak dan bayi.

Sumber : Alodok

Categories
Info Kesehatan

Cara Mengendalikan Asma Saat Hamil

Bagi ibu yang memiliki penyakit asma, kemungkinan ibu akan sering mengalami sesak napas saat hamil. Tidak hanya membuat ibu tidak nyaman, asma yang kambuh juga bisa berpengaruh pada janin di dalam kandungan. 

Meski begitu, ibu hamil dianjurkan untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat untuk mengatasi asma. Ingat, apa yang ibu konsumsi selama kehamilan akan berpengaruh pada bayi, termasuk obat-obatan. Lantas, bagaimana cara mengatasi asma kambuh saat hamil yang aman? Cari tahu jawabannya di sini.

Cara Mengatasi Asma Kambuh Saat Hamil

Penyakit asma yang kambuh selama kehamilan bisa memberi dampak buruk pada kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan. Pasalnya, ketika ibu mengalami kesulitan bernapas, maka bayi pun juga akan kesulitan mendapatkan oksigen yang ia butuhkan untuk pertumbuhannya. Akibatnya, bayi dapat lahir prematur atau pertumbuhannya menjadi terhambat, sehingga berisiko lahir dengan ukuran yang lebih kecil dari yang seharusnya. 

Kabar baiknya, sebagian besar obat asma aman digunakan selama kehamilan. Bagaimana pun juga, lebih baik untuk minum obat asma selama kehamilan daripada mengalami serangan asma yang bisa membuat ibu sesak napas dan bayi dalam kandungan tidak bisa mendapatkan oksigen yang cukup. Berikut adalah cara yang bisa ibu hamil lakukan saat asma kambuh:

  1. Gunakan Inhaler

Salah satu cara yang paling umum dan aman untuk mengatasi asma kambuh saat hamil adalah menggunakan inhaler dengan kombinasi pelega napas dan anti pembengkakan (inflamasi). Obat inhalasi biasanya memiliki dosis yang rendah dan dihirup langsung ke paru-paru ibu, sehingga aman untuk digunakan selama kehamilan. Sangat sedikit obat dari inhaler yang diserap ke dalam aliran darah.

Jadi, bila asma kambuh, ibu dapat menghirup inhaler untuk mendapatkan suplai oksigen. Baru setelah pernapasan sudah lebih membaik, ibu dapat segera pergi ke dokter sambil tetap membawa  inhaler.

2. Konsumsi Obat Resep dari Dokter

Ibu juga bisa membicarakan kondisi asma dengan dokter kandungan dan mengonsumsi obat asma sesuai anjuran dokter tersebut. Obat-obat yang biasa diberikan dokter untuk mengatasi asma adalah albuterol, metaproterenol, salmeterol, dan formoterol.

Tips untuk Mencegah Asma Selama Kehamilan

berikut ini untuk mencegah asma kambuh saat hamil:

Lakukan Pemeriksaan Paru-Paru

Pemeriksaan paru-paru penting dilakukan agar dokter bisa menentukan cara yang tepat mengatasi gangguan sesak napas ibu saat hamil. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat spirometri atau peak flow meter untuk mengukur fungsi paru-paru ibu. Spirometri juga berguna untuk mengetahui apakah dada sesak yang ibu rasakan timbul akibat asma atau karena kondisi lain.

Memeriksakan Kondisi Janin

Setiap ibu hamil wajib memeriksakan kondisi kesehatan janin dalam kandungannya. Namun, khusus ibu pengidap asma, pemeriksaan janin ini menjadi sangat penting untuk mengetahui adakah kondisi yang tidak normal pada janin akibat dampak sesak napas yang ibu alami. Dengan demikian, kondisi bayi yang tidak normal bisa dideteksi lebih awal, sehingga dokter kandungan dapat segera memberi penanganan.

Periksakan Kehamilan dengan USG

Setelah kehamilan menginjak usia 32 minggu, lakukanlah pemeriksaan kehamilan dengan USG untuk melihat pertumbuhan janin jika ibu mengalami asma yang cukup sering. USG juga bisa membantu dokter untuk memeriksa kondisi janin setelah asma kambuh.

Hindari Pemicu Asma

Ibu hamil perlu mengetahui alergi yang bisa menjadi pemicu asma kambuh, seperti debu, bulu binatang, serbuk sari bunga, udara dingin, dan lain-lain. Hindarilah alergi yang ibu miliki tersebut. Selain itu, usahakan juga untuk menghindari asap rokok dan asap kendaraan.

Terapkan Pola Hidup Sehat

Perbanyak mengonsumsi buah apel, minimal empat kali dalam seminggu. Kandungan flavonoid dalam buah apel sangat baik untuk menjaga kesehatan paru-paru. Selain itu, hindari mengonsumsi makanan pedas dan asam yang dapat menyebabkan heartburn dan memicu asma.

Vaksin Flu

Lindungi diri ibu dari serangan penyakit flu yang bisa mengganggu pernapasan dengan mendapatkan vaksinasi flu, baik ketika trimester satu, dua maupun tiga. Vaksin flu aman bagi kehamilan dan dianjurkan untuk setiap ibu hamil.

Sumber : Halodoc